Perseteruan antara supporter sepak bola di Indoneisa bukan menjadi pemandangan yang aneh lagi, hampir setiap klub besar sepak bola di Indonesia memiliki supporter-supporter fanatik yang mendukung dan membela klub idolanya dengan totalitas tanpa batas, itu ungkapan yang sering mereka ucapkan guna menegaskan bahwa hanya mereka lah supporter terbaik di Indonesia. Lihat saja fenomena yang terjadi antara Jakmania (supporter Persija Jakarta) dan Viking atau Bobotoh (supporter Persib Bandung). Perseteruan antara keduanya memang sangat sulit untuk dielakan, kedua supporter mengaku bahwa mereka lah yang terbaik, mereka lah yang tak terkalahkan. Konflik antara keduanya pun sudah sangat sering terjadi hingga sampai menelan korban jiwa meniggal dunia, tapi sayang korban meninggal dunia pun masih saja di anggap seperti angin lalu. Padahal Rasulullah pernah bersabda :

Barangsiapa berperang dibawah bendera kejahilan, ia marah karena fanatisme (kebangasaan), menyeru kepada fanatisme, atau membela karena fanatisme, lalu terbunuh, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah”. (HR. Muslim)

Dan Rasulullah juga bersabda :

“Bukanlah dari golonganku siapa yang menyeru kepada fanatisme (kebangsaan), bukanlah dari golonganku siapa yang berperang karena fanatisme, bukanlah dari golonganku siapa yang marah karena fanatisme”. (HR. Abu Dawud)

Hidup didunia bukanlah untuk menunjukkan kekuatan dan kehebatan kita, hidup didunia bukanlah untuk menyombongkan diri, apalah daya seorang atau sekelompok makhluk bila telah berhadapan dengan sang khalik. Apalah daya kekuatan, kekayaan yang kita miliki dihadapan Allah kelak. Tak peduli kau Jakmania, tak peduli kau Viking, kau tetaplah umat Islam, kau tetaplah umat Rasullullah, kau tetaplah makhluk ciptaan Allah. Walau sejarah berkata perseteruan ini takkan bisa dihentikan, mari kita rubah argumen bodoh tersebut, ingat sekeras apapun batu bila selalu disirami air, maka akan lunak pula.

Dari hasil penelusuran saya, Pesija terbentuk pada tahun 1928, dan Persib terbentuk pada tahun 1933. Coba sejenak kita bereksperimen dengan tahun-tahun terbentuknya kedua klub sepak bola tersebut. Coba di selisihkan antara tahun terbentuknya Persib dan tahun terbentuknya Persija, 1933 – 1928 = 5. Ingat angka ganjil adalah angka yang sangat disukai oleh Allah Swt, sebab Allah berjumlah ganjil, yaitu 1 (satu). Sedangkan angka 5 dari jumlah selisih tahun terbentuknya Persib dan tahun terbentuknya Persija adalah jumlah shalat yang diwajibkan Allah kepada kita seluruh umat Islam, yaitu berjumlah 5 waktu (shalat Shubuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya). Perhatikan pula warna dari kedua supporter, Jakmania berwarna oren, sedangkan Viking berwarna biru. Bukankah oren warna indah dari sunset dan sunrise yang keduanya adalah menunjukan kekuasaan Allah, keindahan yang dapat terlihat oleh kedua mata dan selalu menjadi objek fotograpy oleh para fotograper, sedangkan warna biru adalah warna dari luas dan indahnya langit dan lautan, keduanya pun merupakan kekuasaan dan ciptaan Allah Swt. Perhatikan juga sunset dan sunrise yang berwarna oren berada di atas langit yang berwarna biru, saat menjelang sore langit yang biru berganti warna menjadi oren, dapat kita tarik kesimpulan bahwa warna oren dan biru sangatlah berhubungan erat, keduanya saling melengkapi satu sama lain, begitu pula seharusnya antara Jakmania dan Viking haruslah saling berhubungan erat dan saling melengkapi.

Antara Jakmania dan Viking memang memiliki banyak perbedaan yang sangat jelas, perbedaan ras, bahasa, sejarah, maupun budaya. Jakmania banyak berasal dari ibukota Jakarta dan sekitarnya, walaupun banyak pula terdapat di daerah-daerah lain, dan Viking banyak berasal dari Jawa Barat (Sunda), walaupun banyak juga terdapat di daerah-daerah lainnya, namun satu persamaan yang sangat mendasar antara Jakmania dan Viking, kita berasal dari satu bangsa, bangsa Indonesia, kita memeluk satu agama, agama Islam. Bukankah Allah pernah berfirman :

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha dalam ilmuNya”. (QS. Al-Hujurat: 13)

Bahkan keragaman bangsa, bahasa, dan warna kulit merupakan salah satu tanda-tanda kekuasaan Allah, akan tetapi Allah sangat tidak meridhai jika fanatisme, rasisme menjadi dasar loyalitas dan pemersatu umat. Allah tak menyeru kita melakukan tindakan loyalitas rendahan, seperti yang dilakukan para Jakmania dan Viking terhadap klub-klub idolanya. Allah menyeru kita untuk memberikan loyalitas setinggi-tingginya terhadap agama yang datangnya dari Allah, yaitu agama Islam, loyalitas yang berupa iman dan taqwa yang secara otomatis dapat mempersatukan kita sebagai umat yang kuat dan tangguh. Dan dapat menyelamatkan kita di dunia saat ini dan kelak di akherat.

Andai saja para pahlawan kemerdekaan masih hidup dan melihat keadaan anak-anak bangsa yang saling berseteru antar sesama, bisa dibayangkan bagaimana perasaan mereka melihat semua ini, mereka berjuang mempertahankan keutuhan bangsa ini dari tangan-tangan penjajah, mereka berjuang untuk bangsa ini walau nyawa menjadi taruhannya. Darah, keringat, dan tenaga mereka berikan untuk kemerdekaan bangsa ini. Mereka bukan hanya berasal dari satu daerah di Indonesia saja, tapi mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia, mereka bersatu walau berbeda daerah dan budaya, mereka bersatu untuk mengusir penjajah dari bangsa ini Mereka semua berjuang demi satu tujuan, yaitu mencapai kemerdekaan.

Banyak makna besar yang terkandung antara Jakmania dan Viking. Jakmania dan Viking memanglah seharusnya saling melengkapi. Api yang identik berwarna oren dapat padam dengan air yang identik berwarna biru, Jakarta kota yang berkesan panas, gersang, dan berpolusi dapat ditutupi kekurangannya dengan Bandung yang memiliki julukan kota kembang, karena dengan kembang atau pepohonan tempat gersang dan panas sekalipun dapat terasa nyaman dan sejuk. Itu contoh Viking yang melengkapi manfaatnya untuk Jakmania. Sekarang mari kita beri contoh manfaat Jakmania yang dapat melengkapi kehidupan Viking. Di Bandung banyak terlahir orang-orang kreatif, juga musisi-musisi handal, namun apakah mereka bisa terkenal diseluruh penjuru Indonesia bila mereka tidak mempromosikan diri dan karya mereka di ibukota Jakarta, karena di Jakarta lah pusat dari segala aspek perindustrian, perekonomian, maupun pemerintahan.

Kita semua tahu bahwa kita semua bersaudara, kita semua berasal dari satu nenek moyang yang sama, maka apalagi yang menjadi penghalang untuk kita bersatu. Allah Swt pernah berfirman :

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudara kalian itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kalian mendapat rahmat”. (QS.Al-Hujurat: 10)


Advertisements

“Dan janganlah kalian menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak berhukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Maidah: 44).

“Barang siapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Maidah: 45).

“Dan hendaklah pengikut Injil memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al- Maidah: 47).

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang menyakini (agamanya)?” (QS. Al-Maidah: 50).

Telah sangat jelas Firman-firman Allah di atas untuk menyeru kita menegakkan Syariat Islam di muka bumi ini, apalagi yang harus ditunggu Bapak-bapak pemimpin? Apakah kita harus menunggu sampai peringatan-peringatan (azab) Allah melanda negeri kita lagi?

“Dan hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka. Dan waspadalah terhadap mereka jangan sampai mereka memperdayakan engkau terhadap sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berkehendak menimpahkan musibah kepada mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan sungguh, kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Maidah: 49).

Jika kita benar-benar mengaku bahwa kita adalah seorang muslim sejati pastilah kita tak akan membiarkan kemungkaran selalu larut terjadi di kehidupan kita, sudah begitu banyak kemungkaran yang terjadi di sekitar kita dan sangat minim kekuatan penegak kemungkaran itu. Akan sampai kapan kita terlampau jauh meninggalkan seruanNya? Dan siapakah yang harus bertanggung jawab penuh atas semua yang terjadi saat ini? Rasulullah pernah bersabda :

“Imam (khalifah/kepala negara) adalah pemelihara/pengatur urusan rakyat dan ia dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (HR Al-Bukhari).

Hey, Presiden aku berhak memberi nasihat ku kepada mu! Kami seluruh rakyat Indonesia menginginkan kemulian dan keindahan hidup di dunia ini, kami sudah lelah dengan keterpurukan moral saat ini, kami sudah benci dengan semua kebohongan ini, terlebih kami sudah muak dengan sistem pemerintahan saat ini. Aku ingin bertanya, “Akan kau bawa kemana kami ini?”.

Tak sadarkah bahwa bangsa kita ini belum sepenuhnya merdeka. Secara tertulis memang bangsa ini telah diproklamirkan merdeka, seluruh dunia pun mengakuinya, namun secara realita mungkin kemerdekaan belumlah kita rasakan seutuhnya. Ingat penjajahan tak selalu berbentuk tekanan fisik semata, penjajahan memiliki bermacam-macam bentuk dan cara, namun tetap memiliki motif dan tujuan yang sama, yaitu merampas atau membatasi hak manusia demi kepentingan individu, kelompok, atau negara tertentu. Bila kita dapat merasakannya secara seksama negeri ini sedang terjajah dalam segala hal, terjajah perekonomiannya, terjajah kehidupan sosial budayanya, terjajah moralnya dan terjajah aqidahnya.

Lihatlah keterpurukan kita saat ini, apakah ini adalah sebuah keindahan, dimana kerusakan moral dan aqidah terlihat sangat jelas, segala hal yang jelas-jelas dilarang oleh agama tumbuh subur  di  negeri ini, koruptor-koruptor wakil rakyat bebas berkeliaran, hukuman bagi mereka pun tidak setimpal dengan apa yang telah mereka perbuat, belum lagi pelacuran telah terjadi dimana-mana, dari mulai kota-kota besar maupun kota-kota kecil sampai sekarang telah tersebar disetiap daerah-daerah, batas-batasan aurat dipublikasikan guna memicu hasrat yang melihatnya, sampai-sampai kemusyirikan pun diperjual belikan dimedia cetak maupun media elektronik. Mereka bilang bangsa ini bangsa hukum, mereka bilang bangsa ini bangsa bermoral dan mereka bilang bangsa ini bangsa beradab, tapi mana buktinya? Sistem pemerintahan apa yang mengatur semua ini? Mana hukuman tegas untuk si pelanggar hukum, mana moral dan adab manusianya melihat semua kemaksiatan yang terjadi?

Rasulullah bersabda :

Barangsiapa di antara kalian melihat suatu kemunkaran, maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya. Apabila ia tidak mampu, maka rubahlah dengan lisannya, dan apabila masih tidak mampu juga, maka rubahlah dengan hatinya. Hal ini (merubah dengan hati) adalah selemah-lemahnya iman.”

Hey, Presiden sang pemimpin bangsa rubahlah kemungkaran yang terjadi dengan kekuatan mu, kau lah pemimpin kami, kau lah tauladan bagi kami, kau lah yang harus kami patuhi karena itu seruan Allah kepada kami untuk mentaati pemimpin kami. Tidak kah kau merasa bersalah bilamana akhirnya kami menjadi korban kekeliruan yang telah kau perbuat selama ini?

Seluruh rakyat Indonesia membutuhkan bukti akan kepedulian mu (sang Presiden), sebuah bukti yang dapat mewakili suara kami, sebuah bukti yang dapat membuat kami kembali mempercayakan kepemimpinan bangsa ini kepada mu. Tak ada cara terbaik merubah keadaan suatu kaum atau bangsa selain merubah sistem yang semula mengatur kaum atau bangsa tersebut menjadi sistem yang jauh lebih baik. Sistem yang terbaik pastilah berasal dari yang terbaik pula, dan hanya Allah lah yang terbaik dalam segala hal, yang Maha Sempurna dalam segala hal. Bila kita telah mengetahui bahwa hanya Allah lah yang terbaik, kenapa tak segera kita melakukan apa yang telah Dia serukan kepada kita, sudah sangat jelas Allah menyeru kepada kita untuk menerapkan hukum-hukumNya (Syariat Islam) dikehidupan kita, maka harus menuggu apalagi?

Tanda-tanda bahaya sudah banyak terlihat dibeberapa belahan bumi Indonesia, bencana-bencana yang terjadi akhir-akhir ini bisa jadi adalah azab akan murkaNya Allah kepada kita, maka mari kita tegakkan Syariat Islamiyah dibumi pertiwi ini, jangan hiraukan cemooh dan ancaman yang dapat menimpah kita bila Syariat Islam tegak dibumi Indonesia karena ancaman Allah lah yang lebih nyata dan pedih kelak bila kita tak mengindahkan perintahNya. Apa manfaat yang akan kita ambil dari sistem pemerintahan saat ini, sistem pemerintahan Demokrasi adalah sistem pemerintahan ilusi, semu, abstrak, sistem yang hanya beranggan-anggan namun nihil hasilnya. Kalau kita mencermati dan meneliti dengan seksama, berikrar dan mengakui Demokrasi berarti menghianati Allah dan RasulNya, karena bila kebenaran didapat melalui suara yang terbanyak dari rakyat, maka apa artinya Allah mengutus para Rasul dan diturunkannya kitab-kitab suci, bukankah Rasul di utus ke muka bumi dan kitab-kitab suci diturunkan untuk memperbaiki aqidah manusia yang dulu salah dan menyimpang. Kalaupun ada kemaslahatan yang dapat dirasakan dari sistem Demokrasi, kemaslahatan itu hanyalah bersifat sementara dan samar jika dibandingkan dengan nyatanya kerusakan-kerusakan yang timbulkannya. Apakah kita akan lebih percaya dan tunduk kepada sesuatu yang disusun dan dirancang oleh manusia daripada sesuatu yang dirancang dan disusun oleh Allah Swt?

Hey,

Pemimpin ku,

Presiden ku,

Ku nanti saat itu,

Ku nanti hari itu,

Demi keindahan yang sejati,

Demi ketentraman yang suci,

Demi kesejahteraan yang hakiki

Berikanlah dedikasi terbaik mu,

Persembahkanlah langkah bijak mu,

Karena hari ini adalah cerminan hari esok,

Karena detik ini berguna untuk detik kelak,

Karena itu raihlah satu keputusan sukses,

Keputusan kelak untuk mu, jiwa mu, dan untuk seluruh rakyat mu,

Pancasila :

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa.
  2. Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab.
  3. Persatuan Indonesia.
  4. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat, Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan, Perwakilan.
  5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Mari coba kita jelaskan kandungan-kandungan sebenarnya yang terdapat pada setiap sila-sila Pancasila mulai dari sila pertama sampai dengan sila kelima.

1. Ketuhanan Yang Maha Esa.

Telah jelas sila pertama pada Pancasila menyebutkan “Tuhan Maha Esa”. Esa berarti satu, Tuhan tak beranak maupun diperanakkan, dan tak ada Agama di dunia ini yang menyakini Agamanya dengan satu Tuhan, terkecuali Agama Islam. Hanya satu Tuhan yang mengatur segala yang terjadi di dunia ini, baik yang terjadi di darat maupun di lautan, Dia lah Allah Swt. Dan Allah berfirman :

“Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepadaNya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tiada seorangpun yang setara dengan Dia”. (QS. Al-Ikhlash: 1-4).

Dan Katakanlah: “Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya”. (QS. Al-Isra’: 17).

2. Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab.

Sila kedua pada Pancasila mengajak seluruh warga negara Indonesia menjadi manusia yang adil dan beradab. Setiap masyarakat haruslah berlaku adil dan beradab dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, setiap kegiatan yang dilakukan harus dipenuhi dengan pertimbangan, membedakan mana yang haq dan mana yang batil agar semua dapat berjalan harmonis seperti yang semua inginkan. Sila kedua “Kemanusiaan yang adil dan beradab” lebih difokuskan kepada para warga negara Indonesia agar semua dapat berlaku adil juga beradab (bermoral, berharkat, dan bermartabat). Tak cukup bila masyarakat hanya berlaku adil bila perilakunya tidak beradab, karena hanya dengan beradab kita dapat mengasihi orang-orang yang butuh kasih dan sayang dari kita. Bila perilaku adil dan beradab ini benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, maka akan kita tuai kemulian di dunia ini dan kelak di akherat.

Allah Swt berfirman : “Dan Syu’aib berkata : Hai kaumku, penuhilah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka”. (QS. Huud, 11 : 85).

Dan Rasulullah bersabda :

“Bertakwalah engkau kepada Allah dimana saja kamu berada, dan iringilah kejahatan itu dengan kebaikan, pasti kabaikan itu akan menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan pergaulan yang baik”. (HR. Tirmidzi).

Perbanyaklah berbuat kebaikan dan berlaku adil, karena kebaikan dan keadilan yang kita lakukan apabila ditiru oleh orang lain, maka itu akan menjadi ladang pahala untuk kita yang akan selalu mengalir hingga kita mati dan sampai kelak hari kiamat tiba.

3. Persatuan Indonesia.

Sila ketiga pada Pancasila menuntut kita sebagai seluruh warga Negara Indonesia untuk memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa. Allah Swt sangat melarang kita untuk terpecah belah apalagi saling bermusuhan. Karena dengan bersatu suatu bangsa dapat menjadi bangsa yang sangat kuat dan tangguh, sehingga bangsa tersebut tak mudah untuk diadu domba dan dipecah belah. Allah berfirman :

“Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kalian, lalu menjadilah kalian karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara”. (QS. Ali-Imran: 103).

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudara kalian itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kalian mendapat rahmat”. (QS. Al-Hujurat: 10).

Tak ada satu kekuatan pun yang dapat menyatukan kita semua selain tali Allah. Tali tersebut adalah agama Islam. Hanya melalui agama Islam lah Allah mempersatukan kita semua kepada suatu kesatuan yang kokoh yaitu suatu bangsa. Bangsa Indonesia.

4. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat, Kebijaksanaan Dalam    Permusyawaratan, Perwakilan.

Pada sila keempat Pancasila menerangkan bahwa suatu bangsa haruslah dipimpin oleh pemimpin yang bijaksana dan dapat menjadi wadah untuk bermusyawarah dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang melanda bangsa dan rakyatnya. Pemimpin pun haruslah menjadi suri teladan yang baik agar dapat dicontoh oleh seluruh rakyatnya. Pemimpin yang bijaksana adalah pemimpin yang dapat menjadi wakil bagi rakyatnya dalam mengarungi kehidupan berbangsa dan bernegara, pemimpin sejati harus pula berani berkorban untuk mewakili setiap keinginan dan hajat-hajat segenap rakyatnya guna mensejahterakan kehidupan mereka. Pemimpin sejati pemimpin yang tidak hanya mementingkan kepentingan pribadinya saja, pemimpin sejati bukanlah dari kalangan zhalim dan kafir, pemimpin sejati adalah pemimpin yang selalu dekat dengan Allah Swt dan Rasul-Nya dan selalu menyerukan kebaikan kepada seluruh rakyat-rakyatnya. Karena Allah telah berfirman :

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan-keberkahan dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (QS. Al-A’raf: 96).

Dan sabda Rasulullah :

“Barang siapa yang ingin menyampaikan nasihat kepada penguasa, janganlah ia menyampaikannya didepan umum, akan tetapi menyedirilah dengannya. Jika ia mau menerima nasihat tersebut, maka itulah (yang diharapkan), jika tidak maka sesungguhnya ia telah melaksanakan kewajibannya”. (HR. Ahmad).

Seruan atau ajakan yang paling penting untuk kita sampaikan adalah seruan untuk menerapkan syariat Islam dibumi pertiwi ini, kemungkaran akan selalu merebak luas bila tetap syariat Islam diacuhkan dan tak diperdulikan. Kita seluruh warga Negara Indonesia memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga keutuhan bangsa ini, kita harus memahami bahwa diterapkannya syariat Islam merupakan benteng kokoh yang paling ampuh dan manjur guna mencegah setiap kemungkaran dan kebatilan.

5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Pada sila terakhir yaitu sila kelima pada Pancasila, seluruh warga Negara Indonesia diharapkan mendapat keadilan dalam setiap kehidupan berbangsa dan bernegaranya. Tak ada diskriminatif atau pembedaan dari golongan satu dengan golongan yang lain, semua harus diperlakukan sama rata karena keadilan adalah hak setiap makhluk ciptaan Allah. Karena Allah pun tak pernah membeda-bedakan manusia yang satu dengan manusia yang lainnya, yang membedakan mereka dimata Allah hanyalah tingkat ketakwaan dan keimanan mereka. Rasulullah saw pernah bersabda :

“Imam (khalifah/kepala negara) adalah pemelihara/pengatur urusan rakyat dan ia dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya”. (HR Al-Bukhari).

Untuk membentuk generasi muda bangsa yang berkualitas dan tangguh mau tidak mau bangsa tersebut harus terlebih dahulu memiliki pemimpin yang berkualitas dan tangguh pula sehingga dapat menjadi suri teladan bagi rakyatnya.

Ketika Abu Bakar As-Shidiq diangkat sebagai Khalifah, beliau selalu meninjau rakyatnya secara langsung beliau langsung turun ke jalan guna melihat dan merasakan keluhan rakyatnya secara mendalam. Pada suatu hari Abu Bakar masuk ke dalam salah satu gubuk. Setelah beberapa lama beliau pun keluar. Umar bin Khattab mengikutinya dari belakang tanpa sepengatahuan Abu Bakar. Kemudian Umar memasuki gubuk itu berniat mencari tahu apa yang dilakukan Abu Bakar di dalam sana? Dan Umar melihat seorang wanita tua renta yang buta didalam gubuk tersebut. Lalu Umar pun menanyakan kepada sang nenek, Wahai nenek siapakah Anda? Sang nenek menjawab, “Aku adalah wanita tua renta yang lemah dan buta”. Dan Umar kembali bertanya Lalu, siapakah seseorang yang telah mendatangi mu tadi?”. “Aku tidak mengenalnya” jawab sang nenek. Umar semakin heran, kemudian Umar kembali bertanya, “Lalu apa yang dia lakukan?” Sang nenek pun menjawab, “ Dia membuatkan kami makanan, membersihkan rumah, memerahkan susu kambing untuk kami”. Mendengar hal itu Umar tiba-tiba menangis tersedu-sedu seraya berkata, “ Apakah akan ada lagi seorang Khalifah yang sebaikmu sepeninggal mu nanti wahai Abu Bakar?” (Raudhotul Muhibbin, Ibnu Qoyyim).

Berlomba-lomba dalam kebajikan dan selalu dapat merasakan kesedihan dan derita antar sesama merupakan salah satu sifat seorang muslim sejati. Tak ada yang lebih baik di dunia ini selain kita dapat berbagi kebahagian dengan sesama.

Pada hari ini, jam ini, menit ini, detik ini, dimana tubuh masih kokoh berdiri tegak dan kaki masih dapat berpijak alangkah mulianya kita dapat membagi kebahagian dengan sesama. Tanamlah kebaikan sebanyak-banyaknya pada hari ini, persembahkanlah sesuatu yang indah untuk hari ini. Memohon ampunlah dan selalulah mengingatNya, karena mungkin tak akan lama lagi kita harus menghadapi perjalanan sesungguhnya di alam keabadian nanti.

Bila kita dapat melihat dan menilai dengan bijak kelima sila pada Pancasila memiliki kandungan makna yang sangat besar bagi kemaslahatan bangsa Indonesia. Baik dalam keadaan jelas maupun terselubung isi kelima sila tersebut memiliki tujuan besar didalamnya. Semua yang tertuang dalam sila-sila Pancasila merujuk kita kembali kepada satu kekuatan yang Maha Kuat, Maha Kuasa, yaitu Tuhan yang Esa, tidak lain adalah Allah Swt, yang menjadikan sesuatu dengan sekehendakNya, yang menjadikan kita makhluk ciptaanNya yang beradab dan bermoral paling terhormat. Tak ada bagiNya sekutu, karena itu Dia mempersatukan kita menjadi satu kesatuan yang utuh dalam naungan besar, yaitu bangsa Indonesia. Semata-mata Dia menciptakan seluruh makhluk ciptaanNya hanya lah untuk beribadah kepadaNya, dan menciptakan manusia ke muka bumi untuk menjadi Khalifah bagi dunia dengan tujuan menjadikan dunia tetap berzikir kepadaNya. Dan mensejahterkan juga menyelamatkan seluruh manusia-manusia yang beriman dan bertakwa kepadaNya di dunia maupun kelak di akherat.