Hey, Presiden Tegakkan Syariat Islam !!

May 29, 2010

“Dan janganlah kalian menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak berhukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Maidah: 44).

“Barang siapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Maidah: 45).

“Dan hendaklah pengikut Injil memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al- Maidah: 47).

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang menyakini (agamanya)?” (QS. Al-Maidah: 50).

Telah sangat jelas Firman-firman Allah di atas untuk menyeru kita menegakkan Syariat Islam di muka bumi ini, apalagi yang harus ditunggu Bapak-bapak pemimpin? Apakah kita harus menunggu sampai peringatan-peringatan (azab) Allah melanda negeri kita lagi?

“Dan hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka. Dan waspadalah terhadap mereka jangan sampai mereka memperdayakan engkau terhadap sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berkehendak menimpahkan musibah kepada mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan sungguh, kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Maidah: 49).

Jika kita benar-benar mengaku bahwa kita adalah seorang muslim sejati pastilah kita tak akan membiarkan kemungkaran selalu larut terjadi di kehidupan kita, sudah begitu banyak kemungkaran yang terjadi di sekitar kita dan sangat minim kekuatan penegak kemungkaran itu. Akan sampai kapan kita terlampau jauh meninggalkan seruanNya? Dan siapakah yang harus bertanggung jawab penuh atas semua yang terjadi saat ini? Rasulullah pernah bersabda :

“Imam (khalifah/kepala negara) adalah pemelihara/pengatur urusan rakyat dan ia dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (HR Al-Bukhari).

Hey, Presiden aku berhak memberi nasihat ku kepada mu! Kami seluruh rakyat Indonesia menginginkan kemulian dan keindahan hidup di dunia ini, kami sudah lelah dengan keterpurukan moral saat ini, kami sudah benci dengan semua kebohongan ini, terlebih kami sudah muak dengan sistem pemerintahan saat ini. Aku ingin bertanya, “Akan kau bawa kemana kami ini?”.

Tak sadarkah bahwa bangsa kita ini belum sepenuhnya merdeka. Secara tertulis memang bangsa ini telah diproklamirkan merdeka, seluruh dunia pun mengakuinya, namun secara realita mungkin kemerdekaan belumlah kita rasakan seutuhnya. Ingat penjajahan tak selalu berbentuk tekanan fisik semata, penjajahan memiliki bermacam-macam bentuk dan cara, namun tetap memiliki motif dan tujuan yang sama, yaitu merampas atau membatasi hak manusia demi kepentingan individu, kelompok, atau negara tertentu. Bila kita dapat merasakannya secara seksama negeri ini sedang terjajah dalam segala hal, terjajah perekonomiannya, terjajah kehidupan sosial budayanya, terjajah moralnya dan terjajah aqidahnya.

Lihatlah keterpurukan kita saat ini, apakah ini adalah sebuah keindahan, dimana kerusakan moral dan aqidah terlihat sangat jelas, segala hal yang jelas-jelas dilarang oleh agama tumbuh subur  di  negeri ini, koruptor-koruptor wakil rakyat bebas berkeliaran, hukuman bagi mereka pun tidak setimpal dengan apa yang telah mereka perbuat, belum lagi pelacuran telah terjadi dimana-mana, dari mulai kota-kota besar maupun kota-kota kecil sampai sekarang telah tersebar disetiap daerah-daerah, batas-batasan aurat dipublikasikan guna memicu hasrat yang melihatnya, sampai-sampai kemusyirikan pun diperjual belikan dimedia cetak maupun media elektronik. Mereka bilang bangsa ini bangsa hukum, mereka bilang bangsa ini bangsa bermoral dan mereka bilang bangsa ini bangsa beradab, tapi mana buktinya? Sistem pemerintahan apa yang mengatur semua ini? Mana hukuman tegas untuk si pelanggar hukum, mana moral dan adab manusianya melihat semua kemaksiatan yang terjadi?

Rasulullah bersabda :

Barangsiapa di antara kalian melihat suatu kemunkaran, maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya. Apabila ia tidak mampu, maka rubahlah dengan lisannya, dan apabila masih tidak mampu juga, maka rubahlah dengan hatinya. Hal ini (merubah dengan hati) adalah selemah-lemahnya iman.”

Hey, Presiden sang pemimpin bangsa rubahlah kemungkaran yang terjadi dengan kekuatan mu, kau lah pemimpin kami, kau lah tauladan bagi kami, kau lah yang harus kami patuhi karena itu seruan Allah kepada kami untuk mentaati pemimpin kami. Tidak kah kau merasa bersalah bilamana akhirnya kami menjadi korban kekeliruan yang telah kau perbuat selama ini?

Seluruh rakyat Indonesia membutuhkan bukti akan kepedulian mu (sang Presiden), sebuah bukti yang dapat mewakili suara kami, sebuah bukti yang dapat membuat kami kembali mempercayakan kepemimpinan bangsa ini kepada mu. Tak ada cara terbaik merubah keadaan suatu kaum atau bangsa selain merubah sistem yang semula mengatur kaum atau bangsa tersebut menjadi sistem yang jauh lebih baik. Sistem yang terbaik pastilah berasal dari yang terbaik pula, dan hanya Allah lah yang terbaik dalam segala hal, yang Maha Sempurna dalam segala hal. Bila kita telah mengetahui bahwa hanya Allah lah yang terbaik, kenapa tak segera kita melakukan apa yang telah Dia serukan kepada kita, sudah sangat jelas Allah menyeru kepada kita untuk menerapkan hukum-hukumNya (Syariat Islam) dikehidupan kita, maka harus menuggu apalagi?

Tanda-tanda bahaya sudah banyak terlihat dibeberapa belahan bumi Indonesia, bencana-bencana yang terjadi akhir-akhir ini bisa jadi adalah azab akan murkaNya Allah kepada kita, maka mari kita tegakkan Syariat Islamiyah dibumi pertiwi ini, jangan hiraukan cemooh dan ancaman yang dapat menimpah kita bila Syariat Islam tegak dibumi Indonesia karena ancaman Allah lah yang lebih nyata dan pedih kelak bila kita tak mengindahkan perintahNya. Apa manfaat yang akan kita ambil dari sistem pemerintahan saat ini, sistem pemerintahan Demokrasi adalah sistem pemerintahan ilusi, semu, abstrak, sistem yang hanya beranggan-anggan namun nihil hasilnya. Kalau kita mencermati dan meneliti dengan seksama, berikrar dan mengakui Demokrasi berarti menghianati Allah dan RasulNya, karena bila kebenaran didapat melalui suara yang terbanyak dari rakyat, maka apa artinya Allah mengutus para Rasul dan diturunkannya kitab-kitab suci, bukankah Rasul di utus ke muka bumi dan kitab-kitab suci diturunkan untuk memperbaiki aqidah manusia yang dulu salah dan menyimpang. Kalaupun ada kemaslahatan yang dapat dirasakan dari sistem Demokrasi, kemaslahatan itu hanyalah bersifat sementara dan samar jika dibandingkan dengan nyatanya kerusakan-kerusakan yang timbulkannya. Apakah kita akan lebih percaya dan tunduk kepada sesuatu yang disusun dan dirancang oleh manusia daripada sesuatu yang dirancang dan disusun oleh Allah Swt?

Hey,

Pemimpin ku,

Presiden ku,

Ku nanti saat itu,

Ku nanti hari itu,

Demi keindahan yang sejati,

Demi ketentraman yang suci,

Demi kesejahteraan yang hakiki

Berikanlah dedikasi terbaik mu,

Persembahkanlah langkah bijak mu,

Karena hari ini adalah cerminan hari esok,

Karena detik ini berguna untuk detik kelak,

Karena itu raihlah satu keputusan sukses,

Keputusan kelak untuk mu, jiwa mu, dan untuk seluruh rakyat mu,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s